Kamis, 19 Februari 2015

Materi Interaksi Sosial Sosiologi Kelas X



MATERI INTERAKSI SOSIAL

A.      Pengertian Interaksi Sosial
Hampir setiap manusia saling berhubungan dan atau berinteraksi, baik antar individu, antar kelompok maupun antara individu dengan kelompok.
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, dan antara individu dengan kelompok.
Gillin mengartikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antarindividu, antarkelompok, dan individu-kelompok
Menurut Charles P. Loomis, sebuah hubungan bisa disebut interaksi sosial jika memiliki ciri-ciri berikut.
1.      Jumlah pelaku dua orang atau lebih
2.      Adanya komunikasi antarpelaku dengan menggunakan symbol atau lambing
3.      Adanya suatu dimensi waktu yang meliputi masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang
4.      Ada tujuan yang hendak dicapai sebagai hasil interkasi tersebut.

B.       Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, terdapat dua syarat terjadinya interaksi sosial, yaitu kontak sosial dan komunikasi.
1.    Kontak Sosial
“Kontak” berasal dari bahasa Inggris yaitu contact yang berarti bersama-sama.
Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial adalah cara berhubungan baik dengan interaksi hubungan fisik maupun melalui media, seperti telepon.
Sifat-sifat kontak sosial :
-          Kontak sosial bersifat positif dan negative. Positif jika mengarah ke suatu kerjasama. Namun bersifat negative jika kontak tersebut mengarah ke konflik.
-          Kontak sosial bersifat primer dan sekunder. Primer terjadi jika para peserta interaksi bertemu secara langsung, misalnya antara guru dan murid. Sebaliknya, kontak sekunder terjadi jika interaksi dilakukan melalui media, misalnya membicarakan sesuatu melalui handphone.

2.    Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu kegiatan dimana didalamnya saling menafsirkan perilaku (perilaku-perilaku) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Misalnya Ayah memberikan sebuah bingkisan kepada anaknya sebagai simbol ucapan selamat karena memenangkan juara di Olimpiade.
Ada lima unsur pokok dalam komunikasi :
1.      Komunikator, orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain
2.      Komunikan, orang atau sekelompok orang yang menerima pesan, perasaan, atau pikiran tersebut
3.      Pesan, sesuatu yang disampaikan oleh komunikator
4.      Media, alat untuk menyampaikan pesan. Seperti: lisan, tulisan, gambar, dan film
5.      Efek, perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan setelah mendapat pesan dari komunikator.
Kontak sosial bisa terjadi tanpa adanya komunikasi, tetapi komunikasi kontak sosial tidak bermakna apa-apa daalm suatu interaksi karena masing-masing pihak tidak bias saling memahami maksud dan perasaan masing-masing.
Ada tiga tahap penting dalam proses komunikasi, antara lain:
1)      Encoding. Pada tahap ini gagasan atau program yang akan dikomunikasikan diwujudkan dalam kalimat atau gambar yang dapat diterima oleh komunikan. Baru berbentuk gagasan/ ide.
2)      Penyampaian. Pada tahap ini, gagasan atau program tersebut sudah diwujudkan dalam bentuk kalimat/ gambar.
3)      Decoding. Pada tahap ini dilakukan proses mencerna dan memahami kalimat serta gambar yang diterima menurut pengalaman yang dimiliki.
3.      Tindakan sosial
Tindakan adalah perbuatan, perilaku atau aksi yang dilakuakan untuk mencapai tujuan tertentu.
Tindakan sosial adalah suatu perbuatan atau aktivitas manusia yang dilakukan denga berorientasi pada atau dipengaruhi oleh orang lain.
Menurut Talcott Parsons, tindakan sosial dipengaruhi beberapa faktor, antara lain :
a.       Orientasi Motivasional
Adalah orientasi yang bersifat pribadi yang menunjukkan pada keinginan individu yang bertindak untuk memenuhi kebutuhan.
b.      Orientasi Nilai yang bersifat sosial
Merupakan orientasi yang menunjuk pada standar-standar normatif, missal wujud agama dan tradisi. Dapat dibedakan menjadi 4 macam :
1.      Tindakan sosial instrumental
Yaitu tindakan yang dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara dan tujuan.
Contoh : dalam memilih jurusan di SMA dengan mempertimbangkan bakat dan minat
2.      Tindakan sosial berorientasi nilai
Yaitu tindakan yang berkaitan dengan nilai-nilai dasar dalam masyarakat.
Contoh: jika pergi, jangan pulang malam-malam
3.      Tindakan tradisional
Yaitu tindakan yang tidak memperhitungkan pertimbangan rasional.
Contoh : upacara adat
4.      Tindakan afektif
Yaitu tindakan yang dilakukan seseorang maupun kelompok orang berdasarkan perasaan (afeksi) atau emosi.
Contoh: membanting gelas karena marah
            Suatu kontak dapat terjadi tanpa adanya komunikasi. Contohnya, orang berbicara denagn bahasa Padang kepada orang yang hanya mengerti Bahasa Jawa. Dalam kasus ini, kontak social sudah terjadi, tetapi mereka tidak berkomunikasi sebab salah satu peserta komunikasi tidak bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh yang lain. Dengan demikian, suatu kontak tanpa adanya komunikasi tidak akan memiliki arti apa-apa dalam sebuah interaksi social.
Di dalam sosiologi, interaksi social menjadi salah satu kajian penting. Beberapa sosiolog mengkhususkan dalam mempelajari interaksi social dengan menggunakan pendekatan tertentu dengan istilah perspektif interaksionis (interactionist perspective).
Menurut Herbert Blumer, ada tiga pokok pikiran interaksionisme simbolik, yaitu act, thing, dan meaning. Seseorang bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) berdasarkan arti sesuatu itu bagi dirinya (meaning).
C.      Faktor – faktor Pendorong Interaksi Sosial
Interaksi sosial dilandasi dengan beberapa factor psikologi, antara lain imitasi, sugesti, identifikasi, simpati dan empati.

1.      Imitasi
Adalah suatu tindakan meniru orang lain. Misalnya gaya bicara, tingkah laku, dll. Dapat muncul dengan adanya sikap menerima, mengagumi, dan sikap menjunjung tinggi apa yang akan di imiatsi tersebut.
Misalnya : seorang anak akan meniru orang dewasa menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan karena anak tersebut sudah sering melihat orang menyeberang melalui jembatan, maka ia menirukan.
2.      Identifikasi
Adalah kecenderungan atau keinginan seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain (meniru secara keseluruhan). Atau dapat dikatakan imitasi yang berlebihan.
Misalnya : seorang anak mengidolakan tokoh superman. Kemudian anak tersebut akan berpenampilan seperti superman, merubah penampilan dan gaya bicara seperti superman.
3.      Sugesti
Adalah pemberian pandangan atau sikap yang dianutnya, lalu diterima oleh orang lain. biasanya dapat diterima ketika si penerima sedang dalam kondisi yang tidak netral sehingga sangat tidak dapat berfikir rasional. Sugesti yang diberikan bias bersifat negative maupun positif.
Misalnya : Orang sakit yang pergi ke dokter. Maka ia akan mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.
4.      Simpati
Adalah suatu proses dimana seseorang merasa tertarik kepada orang lain. Merasa dirinya seolah-olah berada didalam keadaan orang lain dan merasakan yang dialami, dirasakan, dll.
Contohnya : ketika ada tetangga yang mempunyai hajat, kita ikut membantu dengan menyibukkan diri, seolah-olah kita yang mempunyai hajatan.
5.      Empati
Merupakan simpati yang mendalam yang dapat mempengaruhi kejiwaan dan fisik seseorang.
Misalnya : ketika seseorang menjenguk tetangga yang sedang terkena musibah. Setelah menjenguk, seseorang tersebut terlalu memikirkan tetangganya akhirnya jatuh sakit.
6.      Motivasi
Merupakan proses sosial yang mirip dengan sugesti, tetapi lebih ke arah positif.
Contoh : seorang ayah memotivasi anak untuk rajin belajar agar menjadi anak yang sukses.

D.      Sumber Informasi yang Mendasari Interaksi Sosial
Yoels membahas sumber-sumber informasi yang mendasari interaksi seseorang dengan orang lain. Karl dan Yoels mengatakan bahwa apabila seseorang baru menjumpai orang lain yang belum kenal, ia akan berusaha mencari informasi tentang orang itu. Terdapat 7 sumber informasi dalam interaksi.
1.      Warna Kulit
Ini adalah salah satu ciri seseorang yang di bawa sejak lahir, seperti jenis kelamin, usia dan ras yang sangat menentukan interaksi.
Contoh : di Negara Indonesia terdapat berbagai suku. Apabila di suatu ketika kita melihat orang dengan warna kulit agak gelap, maka kita akan mengetahui bahwa ia berasal adri suku papua
2.      Usia
Cara berinteraksi dengan orang yang ber usia lebih tua akan berbeda dengan ketika kita berbicara dengan teman sebaya.
3.      Jenis Kelamin
Jenis kelamin juga dapat mempengaruhi interaksi sosial. Contohnya anak laki-laki akan menghindari obrolan yang sedang dilakukan oleh sekelompok perempuan.
4.      Penampilan fisik
Umumnya yang pertama kali dilihat ketika akan berinteraksi adalah melihat penampilan fisik seseorang.
5.      Bentuk tubuh
Menurut penelitian Wells dan Siegal, orang cenderung menganggap bahwa terdapat hubungan antara bentuk tubuh dengan sifat seseorang. Contoh: seorang yang memiliki tubuh atletis (mesomorph) dianggap memiliki sifat dominan, yakin dan aktif.
6.      Pakaian
Sumber informasi juga dapat diperoleh dari pakaian. Orang yang berpakaian rapi seperti eksekutif muda akan lebih dihormati. Sedangkan orang yang berpakaian compang-camping seperti gelandangan maka akan lebih direndahkan.


7.      Wacana
Dari pembicaraan seseorang, kita juga dapat memperoleh informasi-informasi tentang dirinya. Sehingga kita dapat menentukan cara berinteraksi dengannya.

Tahapan pendekatan dan Perenggangan Hubungan dalam Interaksi Sosial
1.      Tahap yang Mendekatkan
Tahap yang mendekatkan dijabarkan menjadi tahap memulai, menjajaki, meningkatkan, menyatupadukan, dan mempertalikan.
Awalnya dimulai dari tahap penjajakan untuk memutuskan apakah hubungan bias ditingkatkan, dipertahankan, atau tidak dilanjutkan. Apabila ditingkatkan, tahap selanjutnya adalah penyatupaduan. Pada tahap ini, kamu dan temanmu mulai merasa ada satu kesamaan atau kesatuan. Dari tahap menyatupadukan ini, lama kelamaan interaksi dapat mencapai tahap pertalian seperti pernikahan pada calon suami istri.
2.      Tahap yang Merenggangkan
Dalam interaksi, selain terjadi proses pendekatan, juga terjadi proses perenggangan. Proses ini terjadi dari tahap membeda-bedakan, membatasi, memacetkan, menghindari, dan memutuskan.
Contohnya, dua orang yang dulunya berteman dan biasa melakukan kegiatan secara bersama-sama, mulai melakukan kegiatan sendiri-sendiri seperti makan atau pulang sekolah sendiri-sendiri. Setelah itu, pembicaraan tentang pertemanan mereka pun mulai dibatasi. Obrolan menjadi dangkal dan sekedar basa-basi saja. Seringkali pihak yang satu bicara tentang sesuatu, yang lain menyangkal, membantah, melarang atau membentak.
Tahap selanjutnya dalah memacetkan. Di tahap ini tidak terjadi komunikasi. Kalaupun ada, hal ini dilakukan karena terpaksa dan dilaksanakan secara sangat hati-hati. Perbedaan kedua teman itu sudah sangat besar sehingga untuk membicarakan hal yang paling sederhana pun sulit dan dapat menyulut konflik. Jika kedua orang yang tadinya berteman itu sudah tidak berkomunikasi tapi masih berada dalam lingkungan yang sama (misalnya sekolah), kedua orang tersebut berusaha saling menghindar.
Setelah terjadi jarak komunikasi dan fisik seperti ini, mereka berdua pun berada di dalam tahap pemutusan hubungan

BENTUK-BENTUK INTERAKSI SOSIAL

A.    PROSES ASOSIATIF
Proses asosiatif merupakan proses interaksi menuju terbentuknya persatuan atau integrasi sosial. Proses asosiatif mempunyai bentuk-bentuk, antara lain kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.
1.      Kerja Sama
Kerja sama adalah suatu usaha bersama antar individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama ini timbul apabila orang menyadari memiliki kepentingan dan dan tujuan yang sama, serta menyadari bahwa hal tersebut bermanfaat bagi dirinya atau orang lain.
Contoh : kerja sama antar prajurit dalam satu kesatuan dapat terjalin ketika menghadapi musuh di dalam sebuah medan pertempuran.
Berdasarkan pelaksanaannya, kerja sama memiliki lima bentuk :
a.       Kerukunan atau gotong royong
b.      Bargaining : pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antar dua orang atau lebih.
Contoh : tukar-menukar barang dan jasa
c.       Kooptasi : penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan dan pelaksanaan politik organisasi sebagai satu-satunya cara untuk menghindari konflik yang bisa mengguncang organisasi.
d.      Koalisi : kerja sama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama.
e.       Joint venture : kerja sama perusahaan dalam proyek tertentu

2.      Akomodasi
Akomodasi yaitu cara berjuang melawan seseorang usaha untuk meredakan pertentangan.
a.       Koersi       : Bentuk akomodasi yang prosesnya melalui paksaan secara fisik maupun psikolog.
Contoh      : dalam sistem perbudakan atau penjajahan.
b.      Kompromi: Bentuk akomodasi dimana pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian.
Contoh      : perjanjian antar wilayah Negara.
c.       Arbitrasi   : Bentuk akomodasi yang prosesnya mengundang pihak ketiga untuk memutuskan perkara.
Contoh      : masalah antara karyawan dengan perusahaan tentang gaji. Masalah ini diatasi dengan meminta bantuan pemerintah yang kemudian menetapkan upah minimum.
d.      Mediasi     : Bentuk akomodasi yang prosesnya mengundang pihak ketiga sebagai penasihat yang bersifat netral, tetapi tidak memiliki wewenang dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah.
Contoh      : ketika ada siswa yang dituduh mengambil buku, dan mereka bertengkar, akhirnya mereka memanggil ketua kelas untuk melerai dan memberi solusi, tetapi ketua kelas tidak berhak untuk memutuskan sesuatu.
e.       Konsiliasi  : Bentuk akomodasi yang prosesnya dengan mempertemukan pihak yang bertikai untuk membuat kesepakatan.
Contoh      : mempertemukan wakil buruh, perusahaan, dan jamsostek untuk saling mengungkapkan keinginan dan mencapai kesepakatan.
f.       Toleransi  : Bentuk akomodasi yang prosesnya dengan menghargai pendirian orang lain tanpa persetujuan yang sifatnya formal.
Contoh      : ketika umat beragama menjalankan ibadah, maka umat beragama lain tidak membuat keributan.
g.      Ajudikasi  : Bentuk akomodasi yang prosesnya dibawa ke pengadilan
Contoh      : masalah pencurian yang tidak dapat diselesaikan, maka akan di selesaikan di pengadilan.
h.      Stalemate (kebuntuan) : kondisi dimana pihak yang bertikai menghentikan konflik karena kekuatan seimbang.
Contoh : Konflik antar faksi mujahidin di Afghanistan. Mereka bertempur, namun akhirnya berhenti karena merasa tidak dapat mengalahkan lawan, sama kuat.

3.      Akulturasi
Akulturasi adalah berpadunya dua kebudayaan yang berbeda dan membentuk suatu kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan ciri kepribadian masing-masing.
Contoh : Suatu desa yang masih memegang kebudayaan lama, meskipun terdapat kebudayaan baru yang masuk.

4.      Asimilasi
Pembauran dua budaya yang menghasilkan budaya baru, atau usaha-usaha untuk menghilangkan perbedaan..
Contoh : pergaulan antara orang-orang yang berbeda latar belakang budaya, mereka saling mencari persamaan atau saling menyesuaikan perilaku di antara mereka, sehingga muncul budaya bersama.
 

 






















B.     PROSES DISSOSIATIF
Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk pertentangan atau konflik, seperti :
a)      Persaingan
Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
Contoh            :
·         Pribadi : persaingan anggota untuk memperoleh kedudukan tertentu dalam sebuah organisasi.
·         Non pribadi : persaingan antara dua kesebelasan dalam sepakbola berebut kemenangan untuk maju ke babak selanjutnya.
b)      Kontravensi
Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
Contoh : Perang dingin

c)      Konflik
Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.
Contoh : konflik agama islam antara aliran syiah dan aliran suni di Madura.





 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar